Showing posts with label Asma Nadia. Show all posts
Showing posts with label Asma Nadia. Show all posts

Friday, April 15, 2011

Jai yang usil, ceriwis, dan nggak pernah kehabisan ide jail, selalu menjadi gudang ketawa yang tak pernah surut. Apalagi kalau ketemu anggota genk Jai, yang tak kalah ajaib. Oscar yang gede, cakep fans berat artis Bollywood, tetapi pemalu, berbanding terbalik dengan Jacko yang ceking, suka bergaya oldies, tetapi pede abis. Untunglah, Jai masih punya adik yang imut, manis dan baik hati. Jamilah namanya. Meskipun kakak beradik, namun Jamilah tidak mewarisi kejailan Jai. Jamilah lebih kalem, lebih peduli, dan tentu saja lebih cantik. Pokoknya beda banget dengan Jai yang sok kece, tetapi tak pernah mau diatur dan sering berbuat seenak udel. Dan kini, kedua kakak beradik itu dibikin pusing gara-gara bingkisan parcel pesanan teman maminya, raib digondol maling bus kota. Padahal, demi parcel itu, maminya rela begadang sampai jauh tengah malam. Gimana dong nasib mereka? Simak aja kisah kocak mereka di serial J-Two ini.

Download : J Two on A Mission

Entah apa yang membuat Asma Nadia mengangkat tema poligami pada novel terbarunya ini. Mungkin saja novel ini adalah ekspresi kegelisahan hatinya dengan santernya pemberitaan tentang poligami yang semakin marak dan terang-terangan selama setahun kebelakang. Uniknya melalui novel ini Asma Nadia mencoba bersikap adil. Lewat jendela Istana Kedua ia “memandang” poligami dari tiga sisi tokoh utamanya sekaligus. Arini, isteri pertama yang menjadi “korban”, Pras si suami, dan Mei Rose si pihak ketiga. Penggambaran karakter ketiga tokoh sentral ini seimbang, sehingga tidak ada kesan berpihak. Asma seakan mempersilakan pembaca untuk menilai dan memutuskan kepada siapa akan berpihak. Melalui sosok Arini yang nyaris sempurna, Asma menyelipkan “pembelajaran” bagi kaum perempuan, bahwa menikah itu bukannya tanpa resiko dan persiapan. Bukan saja kesiapan untuk ditinggalkan jika ajal pasangan tiba, tapi juga kesiapan jika pasangan jatuh cinta lagi dan meninggalkan kita karena perempuan lain ( hal 50 ). Simpati untuk “si korban”, dibangun Asma pada bagian akhir novel ketika secara frontal Mei Rose mengintimidasi Arini. Karakter Pras adalah tipe lelaki yang diidamkan para perempuan. Lelaki yang “lurus”, namun tetap punya kelemahan. Rasa kemanusiaan dan niat “hanya menolong” ternyata membawanya kepada pengkhianatan terhadap keluarga yang dicintainya sekaligus prinsip yang sekian lama dipegang teguh. Lewat Pras, Asma menantang kejujuran sikap kaum lelaki terhadap poligami dan secara halus menyindir para lelaki yang sering berdalih jika menikah lagi bukanlah hal yang direncanakan. ( hal 209 ). Namun ego keperempuanan Asma tetap ingin dimenangkan dengan munculnya rasa penyesalan berpoligami pada tokoh Pras.

Download : Istana Kedua

Ya Allah, Engkau pasti tahu segala yang ada di dalam hatiku. Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berdoa dan bermohon karena hanya Engkau yang Maha Kuasa, Maha Tahu apa yang terbaik untuk hidupku. “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhu (segala perintah-Ku), agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Q.S Al Baqarah :186) “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap diri-Ku. Aku bersamanya ketika berdzikir(mengingat atau menyebut-Ku. Jika dia berdzikir di dalam hatinya, maka Aku mengingatnya di dalam hati-Ku. Jika dia mengingat-Ku dalam suatu jamaah, maka Aku akan mengingatnya didalam jamaah yang lebih baik dari jamaahnya(di dunia). Jika dia mendekat pada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Jika dia mendekat pada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya selengan. Jika dia mendekat pada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendekatinya dengan berlari.” Rasulullah SAW bersabda : “Allah SWT itu santun dan Pemurah, Dia merasa malu pada hamba-Nya, jika hamba-Nya mengangkat kedua tangannya, memohon kepada-Nya, kemudian membiarkan kedua tangan hamba itu kosong(tidak dikabulkan).” “Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.’” (Q.S Al Mukmin : 60)

Download : Catatan Hati di Setiap Sujudku

Mengapa harus kata jatuh yang berada di depan kata cinta? Apakah cinta memang selalu identik dengan musibah dan malapetaka? Mengapa harus kata mati yang berada di belakang kata cinta? Apakah cinta memang selalu menghadirkan segumpal lara dan setetes air mata? Sejumlah kisah, sejumlah peristiwa, lahir dan tumbuh bersama cinta. Tak jarang terdapat luka di setiap akhir cerita, ya, luka yang teramat pedih. Luka yang berakhir dengan tangisan pilu dan kesedihan abadi. Atas dasar itulah buku ini hadir. Di persembahkan untuk semua muslimah yang sedang bersentuhan dengan kesedihan akan cinta.

Download : La Tahzan For Brokenheart

Tuesday, August 10, 2010

Ia bermimpi laki-laki itu lagi. Seperti yang sudah-sudah, mereka berhadapan, dan Rani bisa melihat garis wajahnya dengan jelas. sangat jelas. Seperti dalam mimpi-mimpi sebelumnya, sosok dengan rahang keras itu terlihat sedih dan berduka.

Mereka cuma bersitatap, tanpa kata-kata. Tapi itu lebih dari cukup, untuk membuat Rani bangun keesokan harinya, dengan perasaan bersalah yang pekat.

Ia tak pernah memimpikan lelaki manapun sebelumnya. Baik dalam masa-masa kuliah hingga menikah. Hidup perempuan beranak satu itu mengalir mulus. Lulus kuliah, menikah, dan tanpa menunggu terlalu lama, memperoleh momongan.

Namun empat tahun terakhir ini, Rani dikejar mimpi-mimpi yang aneh. Mimpi yang sama dan berulang, pada sosok yang itu juga, dengan ekspresi yang tak pernah berubah. Lelaki dengan wajah murung, menatapnya tanpa bicara.
Laki-laki itu, ia mengenalnya. Dulu sekali.

*****

Ia mengenal sosok Cepy, ketika mereka masih anak-anak. Rani masih kelas empat sekolah dasar, sementara Cepy dua tahun lebih tua. Keduanya bertemu pertama kali dalam acara Jambore Nasional Pramuka.

Ketika itu seluruh peserta Jambore sedang sibuk memburu sebanyak-banyaknya data dan tanda tangan dari sesama peserta, ketika sebuah celetuk keras ditujukan padanya, “Rani… Rani…”
Lalu gelak tawa lima anak lelaki berseragam penggalang terdengar. Rani menoleh, tapi cepat melengoskan wajah. Ia tak yakin mengenal gerombolan yang barusan menyebut namanya. Lagipula mungkin saja kan panggilan itu diarahkan ke Rani-Rani yang lain? Lebih dari seribu pramuka berkumpul di sini. Lumrah.

Rani tak mau terpengaruh. Panggilan itu kemungkinan besar memang bukan untuknya, jadi gadis berambut panjang yang dikepang dua itu masih menunggu dengan sabar kertas di tangannya ditandatangani beberapa anak dalam balutan seragam coklat, sambil tangannya bergerak cepat menandatangani kertas-kertas yang disodorkan kepadanya, “Rani!” Suara itu kini terdengar lebih dekat. Mau tak mau gadis berkulit hitam manis itu menoleh. Seorang anak lelaki bertubuh kurus, dengan rambut lurus dibelah pinggir tersenyum menatapnya. Matanya bersinar menyenangkan. Mengingatkan Rani pada kerlip bintang-bintang di langit. Cerah.

Tahu-tahu Rani sudah membalas senyum anak lelaki yang berdiri di sampingnya, bahkan tanpa bertanya lagi meraih pulpen pilot yang disodorkan, lalu menuliskan nama, tanggal lahir, alamat dan terakhir tandatangan di atas kertas kerja si mata bintang. Anak lelaki itu tersenyum. Hidungnya mancung, kulitnya kuning langsat.

“Ganteng!” bisik Susan, teman satu kelompok. Sementara sorak sorai di belakang, menyambut si mata bintang. Lalu celutukan keras yang membuat Rani mengernyitkan dahi. “Gila, si Ceppy dapat lima dari Rani!”
Lima? Lima tandatangannya? Kok bisa?
“Dari tadi kan kita udah ketemu sama dia, Ran berkali-kali. Kamu aja nggak sadar!” Penjelasan Susan melahirkan rona merah jambu di pipi Rani, yang untungnya sedikit tersembunyi karena suasana langit yang menggelap.

Pertemuan hari itu terulang berkali-kali selama Jambore. Setiap mereka berpapasan, ketika mengambil air, mengikuti halang rintang, bahkan menjelang upacara Bendera.
Dari jauh Rani memperhatikan anak lelaki kurus jangkung itu terampil melakukan tugas-tugas yang diberikan kakak pramuka. Tali temali, tandu, smaphore, bermain dengan morse, pun ketika mengibarkan bendera. Cekatan!
“Dia ketua regu, Ran!” Lapor Susan sebelum acara Jambore Nasional ditutup.

Ketika meninggalkan bumi perkemahan Cibubur, Rani melepaskan pandang terakhir kali ke belakang, berharap bisa melihat bayangan si mata bintang sebelum truk mereka bergerak. Sia-sia. Saat itu Rani mengira tak akan bertemu lagi dengan Cepy dan gerombolan yang dipimpinnya.


Download : Dia Dalam Mimpi - mimpi Rani

Thursday, July 29, 2010

Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Download : Cinta Laki - laki Biasa

Seingat Diah, selama ini Ibu tidak pernah bersikap lembut kepadanya.

Jangankan bersikap lembut, tersenyum saja barangkali hanya sesekali, itu pun bukan senyum ramah, melainkan senyum mengejek.

Hingga suatu ketika, Diah bisa keluar dari kungkungannya, Diah mendapat beasiswa untuk kuliah di kota lain. Waktu itu Diah berharap Ibu akan senang mendengarnya, tapi malah sebaliknya, Ibu mengejek dengan mencerca pendidikan yang akan ditempuhnya.

Dan sekarang, setelah hampir lima tahun tidak berjumpa, tiba-tiba Ibu meminta Diah pulang. Ada apa gerangan? Apa Ibu belum puas memusuhinya? Atau sebaliknya? Cerita ini terbalut dalam Rembulan di Mata Ibu.

Bersama Rembulan di Mata Ibu, masih ada cerita lain. Semua mengandung hikmah untuk direnungkan.

Download : Rembulan Di Mata Ibu

Sunday, July 18, 2010

Saat cinta berpaling

Saat hati menjelma serpihan-serpihan kecil
Saat ujian demi ujian-Nya terasa terlalu berat untuk ditanggung sendiri
Maka kemana seorang istri harus mencari kekuatan
Agar hati mampu terus bertasbih?

Endorsment:
"Tak ada yang bisa menebak ke dalam hati seorang wanita. Dan buku yang ditulis dengan penuh penjiwaan ini akan membuat anda mengerti mengapa wanita bisa tampil begitu kuat dibalik semua kelemahlembutannya. Karena dia adalah malaikat pelindung bagi hati-hati kecil yang dititipkan Allah untuknya. Two Thumbs Up!!!" (Monica Oemardi)
"I am greatly impressed by this young energetic writer Asma Nadia, who writes with conviction. With simple plot and elegant prose, she instantly appeals to the reader with rare sensitivity and intensity. Asma writes from her heart with passion, compassion and concern. She gives voice to the voiceless. She knows her characters well and writes with intimacy and insight. Her enthusiasm and social concerns are infectious." (Nemichandra, Indian Writer)
"Dalam buku ini Asma Nadia bukan sekadar bercerita tentang perasaan dan tragedi perempuan, namun juga menyampaikan hal-hal yang tidak kita sangka dan bahkan lebih aneh dari fiksi secara amat menyentuh." (Helvy Tiana Rosa)
"The conditions under which some Indonesian women are put, as described by Asma Nadia, are really harsh and I felt pain. I was also deeply moved by the writer's warm heart for the female characters in the stories, as well as her deliberate attitude to deal with the subjects. This is hope, in my opinion. We are human beings before we are artists, before we are men or women, before we are Asians. In the other words, we are Asians in the sense that we start from our own reality and we are women in the sense that we will not shut our eyes from the pain around us." (Oh' Soo Yeon, Korean novelist)
--------------------------------------------------------------------------------------------------
Telah kutinggalkan cemburu
di sudut kamar gelap
telah kuhanyutkan duka
pada sungai kecil yang mengalir dari mataku

telah kukabarkan lewat angin gerimis
tentang segala catatan hati
yang terhampar di tiap jengkal sajadah
dalam tahajud dan sujud panjangku

(Asma Nadia, 2007)

Download : Catatan Hati Seorang Istri

 

FREE HOT VIDEO | HOT GIRL GALERRY